• SMK MUHAMMADIYAH 2 SEMARANG
  • PERKASA (Percaya Diri - Energik - Religius - Kreatif - Adaptif - Santun - Amanah)

Rekonstruksi Perempuan dalam Mewujudkan Gerakan Spiritualitas dan Intelektual di Era Disrupsi

Oleh: Silfiana Nur Indah Sari*

 

Sesungguhnya Islam adalah ajaran yang hak dan sempurna yang diridai Allah Swt., untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi niscaya kewajiban mengabdikan diri semata-semata kehadirat-Nya. Di sisi Allah Swt., manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai derajat yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya, yakni seberapa istikamah mengimani dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

            “Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuan baik (berakhlakul karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (mazmumah), maka rusaklah negaranya (Syair Arab)”.

Dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, maka perempuan dituntut untuk menguasai ilmu agama, Iptek, serta keterampilan yang tinggi dengan senantiasa menyadari fitrahnya. Perempuan sebagai salah satu elemen masyarakat harus memainkan peran strategis dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah Swt. Sebagai salah satu strategi perjuangan dalam mewujudkan visi misi ‘Aisyiyah, diperlukan sebuah wadah yang menghimpun segenap potensi dalam wacana keperempuanan.

            Berbicara mengenai perempuan tidak akan ada keringnya, maka ‘Aisyiyah hadir sebagai laboratorium hidup bagi perempuan dengan pelbagai amal usaha yang dihadirkan seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan masa depan cemerlang sekaligus sebagai wadah perempuan dalam mengoptimalkan peran secara optimal, baik peran sebagai anak, istri, ibu, maupun anggota masyarakat yang memperjuangkan nilai-nilai keislaman, ke-Indonesiaan, keperempuanan, dan anak.

            Namun dewasa ini perempuan masih banyak yang hanya dijadikan objek eksploitasi dari aspek kesehatan, ekonomi, politik, biologis, psikologis, hingga keagamaan. Misalnya, prasangka buruk yang dilontarkan kepada perempuan sebagai makhluk kotor saat datang bulan/haid, makhluk yang disetarakan dengan binatang tidak layak dalam masalah batalnya salat, perempuan yang harus mampu melaksanakan tugasnya dalam ranah domestik: mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal pengasuhan anak dan pekerjaan rumah merupakan dua tugas yang sangat berat yang seharusnya dilakukan secara seimbang oleh istri dan suami. Hal ini penting karena tidak hanya terkait kesetaraan peran tapi juga tumbuh kembang anak. Menurut penelitian Homewood Health United Kingdom 47% perempuan berisiko tinggi mengalami gangguan mental dibanding dengan laki-laki sejumlah 36%.

Berdasarkan fakta yang telah disampaikan sebelumnya, mengapa perempuan menjadi kelompok paling rentan mengalami kesehatan mental? Pakar Psikologi UNAIR, Dr. Ike Herdiana, M.Psi. menyebutkan bahwa perempuan sering kali menghadapi faktor pemicu masalah karena banyaknya peran yang harus ia selesaikan sendiri tanpa dukungan dari orang terdekat. Seperti kasus yang terjadi seorang ibu kandung membunuh anaknya di Brebes, mengutip dari Kompas.com, faktor yang memicu terjadinya tindakan tersebut disebabkan peran ganda yaitu mengurus anak dan menjadi perempuan karier yang harus ia jalankan tanpa adanya dukungan dari orang terdekat, serta faktor ekonomi dan trauma di masa lalu yang belum terselesaikan. Terkait hal ini setiap orang memiliki ketahanannya masing-masing dalam menghadapi permasalahan. Pendalaman atau penghayatan terhadap suatu kejadian bersifat personal, maka kondisi atau dampaknya dapat berbeda-beda setiap orang. Yang lebih penting menjadi individu harus peka untuk melihat orang-orang yang membutuhkan bantuan dan menciptakan ruang aman untuk mendukung individu yang mengalami depresi.

            Perubahan adalah kepastian. Setiap saat perubahan pasti terjadi meski sering tidak terasa. Bagi yang tidak siap berubah, maka akan tergulung oleh perubahan. Allah Swt. telah banyak memfirmankan dalam Al-Qur’an, bahwa perubahan adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan emosional yang matang dan kemampuan intelektual yang benar dengan tetap berpegang kepada Al-Qur’an dan sunah. Seperti firman Allah Swt., Q.S. Al-Ra’d [13]: 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Era disrupsi merupakan era perkembangan inovasi-inovasi baru di tengah perkembangan teknologi yang kian canggih. Untuk itu, perempuan dituntut untuk terus memberikan inovasi baru sebagai penopang agar keberadaan perempuan di tengah keluarga dan masyarakat kembali mempresentasikan spirit perjuangan pergerakan perempuan. Hebatnya perempuan banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an; di antaranya mengenai kesalehan Maryam dan kesabarannya, kesetiaan Hawa dalam menemani Nabi Adam baik suka maupun duka, hingga kepemimpinan Ratu Bilqis (istri Nabi Sulaiman) yang terkisah dalam Al-Qur’an surah An-Naml[27]: 20-44.

Era disrupsi saat ini membuat perempuan bisa bersaing tanpa batas. Peluang lebih luas bagi perempuan berkreasi, membuka kesempatan seluas-luasnya agar perempuan turut menikmati kemajuan pendidikan, kesehatan, dan keterampilan hidup lainnya. Hasil riset Peterson Institute (2016) terhadap 21.980 perusahaan di 91 negara menunjukkan bahwa perusahaan yang dipimpin perempuan ternyata mampu menghasilkan kenaikan profit tahunan 2,7% lebih tinggi daripada ketika dipimpin non-perempuan. Hal ini juga berkaitan dengan fenomena e-commerce di Indonesia yang menurut survei Snapcart (2018) 65% konsumennya merupakan kalangan perempuan. Perempuan dapat membangun kewirausahaan berbasis ekonomi perempuan.

Bagi penulis, ruang ekonomi yang paling ideal untuk kaum perempuan yaitu melalui pengembangan industri rumahan (home industry). Cara ini juga yang dipilih Kementerian Pemberdayaan Perempuan untuk mengatasi isu-isu kekerasan dan pemberdayaan terhadap perempuan karena memiliki ruang yang lebih longgar dan fleksibel. Dengan demikian pola ini dianggap bisa menjaga keseimbangan antara kewajiban dan hak bagi seorang perempuan.

             Berbagai peran yang akan dijalankan perempuan pada era disrupsi tidak hanya menyangkut aspek normatif ajaran Islam apakah boleh atau tidak boleh, adanya perempuan yang aktif di ranah domestik ataupun publik juga menyentuh aspek psikologis dan agama. Misalnya perempuan yang bekerja di luar rumah sering kali harus menanggung beban ganda, di samping harus mengurusi urusan rumah tangga dan keluarga, juga pasti bertanggung jawab pada pekerjaannya. Belum lagi persoalan secara psikologis yang dialami keluarga karena perempuan banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Dari sini menjadi jelas bahwa persoalan perempuan yang berani tampil di era disrupsi bukan persoalan sederhana.

Psikologi agama bertujuan untuk menjadi social control dalam tuntunan baik secara pribadi maupun kelompok yang berfungsi sebagai norma-norma sehingga agama menjadi pengawas bagi individu maupun kelompok. Sebagai perempuan yang taat beragama, perempuan harus mematuhi segala ketentuan yang diwajibkan oleh agamanya, dan tidak ingin melanggar larangan-Nya. Kepatuhan melaksanakan ketentuan agama tersebut memberikan ketenteraman kepada batinnya, yang selanjutnya dapat menambah gairah dan semangatnya untuk bekerja dan beramal. Yang sangat dibutuhkan seorang perempuan dalam hal ini batas-batas pekerjaan yang harus dipilih oleh seorang perempuan, karena harus menyesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan pekerjaan dan bidang profesinya masing-masing, agar tidak menimbulkan masalah-masalah sosial yang tidak dikehendaki.

            Semua perempuan hebat, Allah Swt. menciptakan perempuan tidak hanya sebagai benda mati yang hanya menjadi pajangan dengan berbagai keindahannya, akan tetapi Allah Swt. menciptakan perempuan sebagai makhluk yang tangguh dengan berbagai peran yang dapat ia jalankan secara bersamaan. Perempuan harus berdikari, yaitu perempuan yang bertanggung jawab dengan fitrah dan perannya, berprinsip, dapat berdiri di kaki sendiri; memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesetaraan; berpendidikan setinggi-tingginya; serta dapat memberikan pemahaman bahwa dengan perempuan berpendidikan tinggi dapat dikorelasikan dengan agama, sosial, pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan.

 

*Penulis adalah Guru SMK Muhammadiyah 2 Semarang

 

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Wujudkan Profil Pelajar Pancasila, SMK MUDA Hadirkan Pak Bhabin untuk Siswanya

Oleh: Jumaidi Iqbal*   Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan mata pelajaran yang khas dan unik dalam struktur Kurikulum Merdeka. Tujuan utama mapel ini yaitu mencet

26/01/2023 13:59 - Oleh Administrator - Dilihat 15 kali
SMK MUHAMMADIYAH 2 SEMARANG MENGGANDENG BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH SOSIALISASI PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA

Oleh: Silfiana Nur Indah Sari*   Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini, kebanyakan kalangan muda cenderung mengikuti

17/01/2023 20:57 - Oleh Administrator - Dilihat 27 kali
SMART PARENTING; SMK MUHAMMADIYAH 2 SEMARANG AJAK ORANG TUA PELAJARI POLA PENDIDIKAN ANAK

Oleh: Silfiana Nur Indah Sari*   Keluarga sebagai salah satu dari trisentra pendidikan adalah tempat pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga diharapkan senantiasa berusaha me

12/01/2023 19:41 - Oleh Administrator - Dilihat 44 kali
UNGGAH-UNGGUH CERMIN KARAKTER SISWA

Bahasa yang dipakai atau kata-kata yang ditujukan kepada orang lain itulah yang kita sebut unggah-ungguh basa. Unggah-Ungguh basa Jawa yang merupakan salah satu sumber pendidikan karakt

26/09/2022 09:00 - Oleh Administrator - Dilihat 111 kali
Rentannya Penggunaan Bahasa Jawa di Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Jawa

Program kerja Revitalisasi Bahasa Daerah (Jawa) sudah mulai digencar-gencarkan Balai Bahasa Jawa Tengah sejak beberapa tahun yang lalu. Sasarannya adalah para guru utama pilihan SD dan

26/09/2022 08:50 - Oleh Administrator - Dilihat 125 kali
Penjelasan Mendikbud Terkait 3 Aspek Asesmen Nasional Pengganti UN 2021

Kompas.com - 08/10/2020, 09:54 WIB   Penulis Albertus Adit | Editor Albertus Adit KOMPAS.com - Tahun depan (2021), Ujian Nasional (UN) resmi diganti oleh Menteri Pendidikan dan

10/10/2020 09:57 - Oleh Administrator - Dilihat 298 kali